Nuraeni, Nuraeni (2025) Ziarah dan Kekeramatan: Studi Akidah Islam terhadap Praktik Religius di Makam Ki Buyut Ireng Di Kecamatan Pulosari. Diploma atau S1 thesis, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
|
Teks
S_AFI_211310007_Cover.pdf Download (311kB) |
|
|
Teks
S_AFI_211310007_Lampiran Depan.pdf Download (926kB) |
|
|
Teks
S_AFI_211310007_Bab I.pdf Download (628kB) |
|
|
Teks
S_AFI_211310007_Bab II.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (342kB) |
|
|
Teks
S_AFI_211310007_Bab III.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (373kB) |
|
|
Teks
S_AFI_211310007_Bab IV.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (547kB) |
|
|
Teks
S_AFI_211310007_Bab V.pdf Download (219kB) |
|
|
Teks
S_AFI_211310007_Daftar Pustaka.pdf Download (347kB) |
Abstrak
Penelitian ini mengkaji praktik ziarah dan keyakinan terhadap kekeramatan makam Ki Buyut Ireng di Kecamatan Pulosari dalam perspektif akidah Islam. Ki Buyut Ireng, atau Ki Abdurrahman, dikenal sebagai ulama karismatik yang berperan penting dalam penyebaran Islam melalui dakwah yang lembut, pendirian bale sebagai pusat pembelajaran agama, serta kepeduliannya terhadap masyarakat. Hingga kini, makam beliau menjadi pusat ziarah dan diyakini memiliki nilai spiritual khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ziarah di makam ini dilakukan dengan doa, tahlil, penaburan bunga, hingga praktik tawasul. Sebagian peziarah juga meyakini adanya keberkahan khusus, bahkan membawa sesajen atau menyampaikan hajat tertentu. Keyakinan terhadap kekeramatan Ki Buyut Ireng berakar pada pandangan bahwa beliau adalah wali yang dekat dengan Allah, sehingga doa melalui perantara beliau dianggap lebih mudah dikabulkan. Faktor sosial-budaya, psikologis, serta keterbatasan pemahaman akidah menjadi pendorong utama keberlangsungan tradisi ini. Dalam perspektif akidah Islam, ziarah kubur dianjurkan sebagai sarana mengingat kematian dan mendoakan mayit. Namun, praktik yang menjurus pada pengkultusan, permohonan kepada selain Allah, atau keyakinan berlebihan terhadap kekuatan makam termasuk dalam kategori penyimpangan dari tauhid. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dakwah dan edukasi yang bijak untuk meluruskan pemahaman masyarakat tanpa menghilangkan nilai budaya lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa sosok Ki Buyut Ireng tetap menjadi teladan moral, guru spiritual, dan simbol budaya religius masyarakat Pulosari. Namun, pelestarian tradisi ziarah harus selalu diarahkan agar sejalan dengan akidah Islam yang murni, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara warisan budaya dan kemurnian tauhid.
| Tipe Item/Data: | Skripsi/Tesis/Disertasi (Diploma atau S1) |
|---|---|
| Kata Kunci (keywords): | Ziarah, Ki Buyut Ireng, kekeramatan, akidah Islam, tradisi lokal |
| Subjek: | 2x3 Aqaid, Aqidah, Akidah, Ilmu Kalam > 2x3.8 Perbandingan Kepercayaan Aliran dan Sekte-sekte dalam Islam |
| Divisi: | Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam > Aqidah dan Filsafat Islam |
| User Penyetor: | S.S.I Fadhilah NH |
| Tanggal Disetorkan: | 04 Aug 2026 03:51 |
| Perubahan Terakhir: | 04 Aug 2026 03:51 |
| URI: | http://repository.uinbanten.ac.id/id/eprint/18965 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Item |
