تقدم الخبر على المبتدأ عند الكوفيين و البصريين

Imam, Saeful (2025) تقدم الخبر على المبتدأ عند الكوفيين و البصريين. Diploma atau S1 thesis, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

[img] Teks
S_BSA_211360098_Cover.pdf

Download (32kB)
[img] Teks
S_BSA_211360098_Lampiran Depan.pdf

Download (785kB)
[img] Teks
S_BSA_211360098_BAB I.pdf

Download (500kB)
[img] Teks
S_BSA_211360098_BAB II.pdf
Restricted to Hanya staf repositori

Download (285kB)
[img] Teks
S_BSA_211360098_BAB III.pdf
Restricted to Hanya staf repositori

Download (589kB)
[img] Teks
S_BSA_211360098_BAB IV.pdf
Restricted to Hanya staf repositori

Download (308kB)
[img] Teks
S_BSA_211360098_BAB V.pdf

Download (219kB)
[img] Teks
S_BSA_211360098_Daftar Pustaka.pdf

Download (377kB)

Abstrak

Terjadi perbedaan pandangan antar ulama atau madzhab. pemahaman akan perbedaan-perbedaan ini sangat penting, karena ketidaktahuan akan perbedaan pada taqdimul Khobar ala mubtada dapat berpengaruh pada ketidaktahuan kedudukan kata dalam kalimat dan hal ini juga berakibat pada pemaknaan kata. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk membahas dan menjelaskan perbedaan pendapat yang terjadi pada dua madzhab nahwu yaitu basrah dan kufah, kenapa perbedaan itu terjadi dan mencari letak perbedaanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sintaksis untuk menemukan titik perbedaan, penelitian ini juga menggunakan kitab dan jurnal yang sudah terpublish ataupun belum sebagai data primer dan sekunder. Hasil penelitian Ulama Kufah berpendapat bahwa tidak boleh mendahulukan khabar terhadap mubtada, baik mufrad atau jama’, seperti قائم Sedangkan ulama Bashrah berpendapat bahwa boleh mendahulukan .زي د khabar terhadap mubtada, baik mufrad atau jama’. Ulama Kufah menjelaskan alasan bahwa tidak boleh mendahulukan khabar terhadap mubtada, baik mufrad atau jama’, karena itu menunjukkan pada pendahuluan dhamir isim dan mengakhirkan yang dzahir. Dan sudah tentu bahwa susunan dhamir isim adalah setelah dzahirnya. Maka wajib bahwa tidak boleh mendahulukannya. Adapun ulama Bashrah menjelaskan alasan bahwa boleh mendahulukan khabar terhadap mubtada, baik mufrad atau jama’, karena telah banyak hal tersebut terdapat di dalam ungkapan orang Arab dan dalam sya’ir-sya’ir, seperti في بيته يؤتى الحكم, maka dalam ungkapan tersebut mendahulukan khabar dan mengakhirkan mubtada, pada dasarnya adalah بيته في يؤتى الحكم.

Tipe Item/Data: Skripsi/Tesis/Disertasi (Diploma atau S1)
Kata Kunci (keywords): Mubtada, Khobar, Basra, Kufah
Subjek: 400 Bahasa > 490 Bahasa lainnya > 492 Afro-Asiatik bahasa; bahasa Semit
Divisi: Fakultas Ushuluddin dan Adab > Bahasa dan Sastra Arab
User Penyetor: S.Hum Prihantini Noor Akmalia
Tanggal Disetorkan: 15 Apr 2026 07:23
Perubahan Terakhir: 20 Apr 2026 04:00
URI: http://repository.uinbanten.ac.id/id/eprint/18499

Actions (login required)

Lihat Item Lihat Item

      is powered by EPrints 3 which is developed by the Islamic Institutional Repository UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. More information and software credits.