Sheila, Hilda (2025) Gejolak Revolusi di Depok Tahun 1945-1949. Diploma atau S1 thesis, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
|
Teks
S_SPI_201350006_Cover.pdf Download (343kB) |
|
|
Teks
S_SPI_201350006_Lampiran Depan.pdf Download (599kB) |
|
|
Teks
S_SPI_201350006_Bab I.pdf Download (268kB) |
|
|
Teks
S_SPI_201350006_Bab II.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (280kB) |
|
|
Teks
S_SPI_201350006_Bab III.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (342kB) |
|
|
Teks
S_SPI_201350006_Bab IV.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (252kB) |
|
|
Teks
S_SPI_201350006_Bab V.pdf Download (165kB) |
|
|
Teks
S_SPI_201350006_Daftar Pustaka.pdf Download (226kB) |
Abstrak
Revolusi yang terjadi di Depok pada tahun 1945-1949 berawal dari kemerdekaan Indonesia tahun 1945, pada saat itu masyarakat Depok tidak ikut serta merayakan kemerdekaan karena masih terikat dengan kepemimpinan Belanda, para pejuang kemerdekaan tidak menerima jika masih ada pengikut Belanda di wilayah Republik Indonesia, sehingga para pejuang kemerdekaan memberontak daerah-daerah yang masih menjadi kekuasaan Belanda termasuk di Depok. Sehingga peristwa ini lah awal mula terjadinya Revolusi Di Depok pada tahun 1945-1949. Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam skripsi ini adalah 1. Bagaimana Kondisi Depok Sebelum Terjadinya Revolusi? 2. Bagaimana Terjadinya Revolusi Di Depok Tahun 1945-1949? 3. Apa Dampak Revolusi Terhadap Masyarakat Depok?. Adapun tujuannya adalah Untuk Mengetahui Kajian Teoritis Tentang Peristiwa Revolusi, Untuk Mengetahui Sejarah Depok, dan Untuk Mengetahui Gejolak Revolusi Di Depok Tahun 1945-1949. Dalam Skripsi ini, Peneliti menggunakan metode penelitian Sejarah menurut Kuntowijoyo yang meliputi lima tahapan, yaitu Pemilihan Topik, Heuristik (pengumpulan sumber), Verifikasi (kritik), Interpretasi (penafsiran) dan Historiografi (penulisan). Hasil dari skripsi ini dapat disimpulkan bahwa Sebelum kemerdekaan, Depok dikuasai oleh Cornelis Chastelein, seorang saudagar Belanda yang membentuk "Republik" kecil dengan membagi masyarakat menjadi 12 kelompok budak dari berbagai daerah. Meskipun terpisah, hubungan sosial mereka damai, dan ekonomi masyarakat Depok sejahtera, dengan mayoritas bekerja sebagai petani dan membayar sedikit kepada Belanda. Agama Kristen menjadi dominan karena ajaran Chastelein, dan pendidikan anak-anak berfokus pada agama tersebut. Setelah kemerdekaan, pada September 1945, terjadi peristiwa besar di Depok akibat masih dikuasainya wilayah tersebut oleh Belanda, yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Pada 1946, Belanda kembali menyerang Indonesia dengan Agresi Militer Belanda I, dan Depok terlibat dalam pertempuran antara Belanda dan pejuang kemerdekaan. Setelah gencatan senjata, pada 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II dan mengepung Jakarta, menjadikan Depok tempat persembunyian bagi pejuang yang melarikan diri ke hutan. Pertempuran berakhir pada 1948. Setelah Indonesia resmi merdeka pada 1949, tanah partikelir, termasuk Depok, dihapus. Dampak sosial pasca revolusi menyebabkan kesetaraan sosial, sementara ekonomi Depok terganggu akibat kerusakan yang ditimbulkan. Pemulihan kota dilakukan melalui restorasi dan rekonstruksi oleh pemerintah setempat.
| Tipe Item/Data: | Skripsi/Tesis/Disertasi (Diploma atau S1) |
|---|---|
| Kata Kunci (keywords): | Revolusi, depok |
| Subjek: | 900 Sejarah > 950 Sejarah Asia > 959 Southeast Asia > 959.8 Sejarah Indonesia |
| Divisi: | Fakultas Ushuluddin dan Adab > Sejarah Peradaban Islam |
| User Penyetor: | S.S.I Fadhilah NH |
| Tanggal Disetorkan: | 18 Jun 2026 04:42 |
| Perubahan Terakhir: | 18 Jun 2026 04:42 |
| URI: | http://repository.uinbanten.ac.id/id/eprint/18765 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Item |
