Nafilah, Nafilah (2025) Pergeseran Otoritas Keagamaan dari Ulama ke Artificial Intelligence (AI): Studi Generasi Muda Muslim di Banten. Magister thesis, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
|
Teks
T_SII_232631112_Cover.pdf Download (17kB) |
|
|
Teks
T_SII_232631112_Lampiran Depan.pdf Download (1MB) |
|
|
Teks
T_SII_232631112_Bab I.pdf Download (360kB) |
|
|
Teks
T_SII_232631112_Bab II.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (460kB) |
|
|
Teks
T_SII_232631112_Bab IV.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (766kB) |
|
|
Teks
T_SII_232631112_Bab III.pdf Restricted to Hanya staf repositori Download (485kB) |
|
|
Teks
T_SII_232631112_Bab V.pdf Download (206kB) |
|
|
Teks
T_SII_232631112_Daftar Pustaka.pdf Download (362kB) |
Abstrak
Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam cara generasi muda Muslim di Banten mengakses dan memahami informasi keagamaan. Kecenderungan mereka untuk mencari jawaban melalui platform berbasis Artificial Intelligence (AI) menjadi fenomena baru yang mencerminkan dinamika dan pergeseran otoritas keagamaan di era digital. Penelitian ini mengangkat dua rumusan masalah, yaitu: (1) Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran otoritas keagamaan di kalangan generasi muda Muslim di Banten? dan (2) Bagaimana bentuk-bentuk pergeseran otoritas keagamaan dalam perspektif Max Weber?. Metode yang digunakan adalah pendekatan mixed method, yakni penggabungan antara metode kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui penyebaran kuesioner untuk mengukur faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran otoritas keagamaan, sementara data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk menelusuri bentuk-bentuk pergeseran tersebut secara lebih kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67% responden memilih efisiensi, kemudahan, dan kecepatan sebagai alasan utama menggunakan AI dalam mencari informasi keagamaan; 37% dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial serta penggunaan smartphone, internet, dan komputer; sedangkan 0% menyatakan dipengaruhi oleh faktor perundang undangan. Secara kualitatif, informan seperti Ambarwati merasa lebih nyaman menggunakan AI karena aksesnya cepat dan privat, sementara Rajes menilai AI tidak membatasi ruang dan waktu dalam proses belajar agama. Dalam perspektif Max Weber, temuan ini mencerminkan dominasi rasionalisasi dan modernisasi dalam tindakan sosial keagamaan generasi muda. Hasil ini sekaligus menjawab kedua rumusan masalah yang diajukan. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar ulama, akademisi, dan institusi keagamaan mulai mengintegrasikan teknologi sebagai bagian dari strategi dakwah dan pendidikan agama yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
| Tipe Item/Data: | Skripsi/Tesis/Disertasi (Magister) |
|---|---|
| Kata Kunci (keywords): | Pergeseran otoritas keagamaan, geenrasi muda muslim banten, artificial intelligence, max weber |
| Subjek: | 2x0 ISLAM (Umum) > 2x0.3 Islam dan Ilmu Sosial |
| Divisi: | Magister > Studi Islam Interdisipliner |
| User Penyetor: | S.S.I Fadhilah NH |
| Tanggal Disetorkan: | 09 Feb 2026 06:27 |
| Perubahan Terakhir: | 09 Feb 2026 06:27 |
| URI: | http://repository.uinbanten.ac.id/id/eprint/18159 |
Actions (login required)
![]() |
Lihat Item |
